PERANCANGAN PRODUK TEKNOLOGI INFORMASI KOMUNIKASI DALAM PLS

 Nama : Khairunnisa

Nim    : 19005020

Jurusan Pendidikan Luar Sekolah

Perancangan Produk Teknologi Informasi Komunikasi Dalam PLS Pendidikan yang menggunakan blue print

Peran Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) dalam pendidikan sesuai dengan blue print Kemendiknas mencakup empat hal, 
yaitu:
 (1) TIK sebagai gudang ilmu pengetahuan
 (2) TIK sebagai alat bantu pembelajaran
 (3) TIK sebagai fasilitas pendidikan
(4) TIK sebagai standar  kompetensi.  
Sehingga  dapat  disimpulkan  bahwa  eksistensi  TIK  di  sekolah  dengan pemanfaatannya yang  maksimum sangat penting diupayakan. Di dalam surat edaran resmi dari 
Kemendikbud  no.19  tahun  2015 tertulis bahwa sekolah menengah di  Jawa Tengah akan mengimplementasikan Ujian Nasional Online atau Computer Based Test (CBT), sehingga setiap sekolah harus menyiapkan infrastruktur seperti: komputer dan jaringan internet untuk mendukung kebijakan ini.  
Saat ini masih terjadi hambatan dalam pemanfaatan TIK dalam pembelajaran di 
sekolah.  Kurangnya  kemampuan  guru  untuk  menggunakan  perangkat  TIK  karena  tidak  ada pelatihan dari sekolah maupun dinas pendidikan, kurangnya infrastruktur yang dimiliki sekolah dikarenakan  beratnya  beban  financial  yang  harus  ditanggung  sekolah  dalam  hal  pengadaan, pemeliharaan,  dan  pembaruan  infrastruktur  TIK  (Sumintono,  dkk.,  2012).  Dari  permasalahan tersebut  maka  perlu  dianalisis  sumber  daya  apa  saja  yang  sudah  dimiliki  oleh  sekolah?  Sejauh mana  sumber  daya  tersebut  berfungsi?  Dengan  melihat  bagaimana ketersediaan  dan  kesiapan 
sumber daya tersebut maka dapat disusun kerangka kerja perencanaan sumber daya TIK dalam rangka menunjang penyusunan rencana strategis TIK di sekolah.  Metode  Ward  and  Peppard  digunakan  dalam penyusunan  perencanaan  pengembangan sumber daya TIK di sekolah menengah di Kota Salatiga. Pendekatan ini merupakan metodologi 
untuk  menghasilkan  sebuah  perencanaan  strategis  TIK  yang  mengkombinasikan  berbagai  alat analisis  seperti  SWOT  dan  Value  Chain  Activity  (Ward,  dkk.,  2002),  mampu  menganalisis 
kesenjangan informasi antara kegiatan sekolah dan TIK yang digunakan serta dapat 

memberikan  keunggulan  kompetitif berdasarkan  peluang yang dimiliki oleh  sekolah.  Sehingga 
hasil  perencanaan  sumberdaya  TIK  ini  dapat  mendukung  perencanaan  strategis  TIK  secara keseluruhan  dalam  menjawab  berbagai  kebutuhan  organisasi  berdasarkan  analisis  lingkungan bisnis dan lingkungan TIK baik lingkungan internal maupun  didefinisikan ke dalam tiga kategori, yaitu: Information Technology (IT), 
Communication  Technology  (CT),  dan  Information  Literacy.  Termasuk  di  dalam  IT  adalah perangkat keras (komputer, printer, dll.) dan perangkat lunak (database, Microsoft Office, dll.) yang dapat digunakan untuk mengakses, mengambil, menyimpan, mengatur, memanipulasi, dan menyajikan  informasi  dari  peralatan  elektronik.  CT  merujuk  pada  peralatan  telekomunikasi yang  dapat  digunakan  untuk  mencari  dan  mengakses  informasi  (telepon,  faks,  modem  dengan komputer, dll.). Sedangkan Information Literacy adalah kombinasi dari pengetahuan, pemahaman,  kemampuan,  dan  sikap  yang  diperlukan  seseorang  agar  dapat  bermanfaat  bagi untuk memilih, menginterprestasikan, menguji, memanipulasi, dan mempersembahkan informasi 
Butler  dan  Sebom  (dalam  Sumintomo,  2012)  menyatakan  bahwa  ketersediaan  fasilitas 
TIK  di  sekolah,  seperti  komputer,  LCD,  internet,  dll.,  maupun  kepemilikan  komputer  pribadi 
oleh  guru  merupakan  hal  utama  yang  sangat  berpengaruh  terhadap  penggunaan  TIK  dalam 
pembelajaran.  Fasilitas  TIK  yang  kurang  memadai  adalah  salah  satu  faktor  utama  dalam penghalang  keefektifan  pemanfaatan  TIK  dalam  pembelajaran  (Gรผlbahar,  2008).  Faktor  lain yang  berpengaruh  adalah  kurangnya  kesempatan  pelatihan  bagi  guru  dalam  penggunaan  TIK Tingkat  kompetensi  individu  guru  juga  sangat  berpengaruh  dalam implementasi  TIK  dan  persepsi  motivasi  siswa  dan  guru  itu  sendiri  (Gobbo,  dkk.,  2001). Tingginya  harga  software  dan  hardware,  lemahnya  infrastruktur,  kurangnya  pengetahuan  dan ketrampilan  TIK,  kurangnya  software  yang  sesuai  dan  selaras  dengan  kultur,  juga  tingginya biaya  internet  merupakan  faktor  penghalang  bagi pengintegrasian  TIK  di  sekolah Meskipun dewasa ini TIK merupakan elemen yang sangat mutakhir dalam pembelajaran di kelas, namun banyak guru yang belum memanfaatkan jaringan elektronik untuk mengembangkan kegiatan pembelajaran meskipun sekolah mereka sudah menyediakan fasilitas yang sangat  mendukung  untuk hal tersebut canggihnya  peralatan  TIK  menjadi  tantangan  bagi  guru  dalam  hal  memahami  bagaimana menentukan penggunaan TIK yang sesuai dan efektif pada situasi tertentu dalam pembelajaran 
(Passey,  2006).  Penggunaan  TIK  dalam pembelajaran  bahasa  sangat  mendukung  peningkatan kemampuan berbahasa siswa (Hussain, dkk., 2010).  Perencanaan  pengembangan  sumber  daya  TIK  guna  mendukung  perencanaan  strategis TIK di sekolah dapat disusun dengan menggunakan berbagai metodologi. Salah satunya adalah dengan  pendekatan  metodologi  versi  Ward  and  Peppard.  Metodologi  ini  dimulai  dari  proses identifikasi kondisi investasi sumber daya TIK di masa lalu yang kurang bermanfaat bagi tujuan TIK dalam pendidikan dan menangkap peluang, serta fenomena guna meningkatkan keunggulan kompetitif  sekolah  karena  mampu  memanfaatkan  sumber  daya  dengan  maksimal.


Komentar

Posting Komentar