Manfaat Teknologi Informasi Dan Komunikasi Dalam Pendidikan Kesetaraan Di Bidang PLS
TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI UNTUK PENDIDIKAN NONFORMAL
Nama khairunnisa
Nim 19005020
Jurusan Pendidikan Luar Sekolah
Satuan pendidikan nonformal terdiri atas lembaga kursus, lembaga pelatihan,
kelompok belajar, pusat kegiatan belajar masyarakat, dan majelis taklim, serta satuan
pendidikan yang sejenis. Sedangkan contoh-contoh program pendidikan nonformal
adalah Paket A, Paket B, Paket C, kursus, keaksaraan fungsional, taman bacaan
masyarakat, kelompok bermain (play group) dan sebagainya.
Saat ini berkembang stereotype bahwa peserta didik untuk pendidikan nonformal
seringkali berasal dari kalangan masyarakat yang secara ekonomi berada pada level
menengah ke bawah. Anggapan ini tidak sepenuhnya benar terutama untuk program
kursus dan pendidikan anak usia dini, tetapi tidak bisa dipungkiri untuk
program-program yang lain semacam Paket A, B, C dan keaksaraan fungsional para
peserta didik memang sebagian besar berasal dari kalangan masyarakat yang kurang
beruntung secara finansial. Pada kelompok masyarakat ini umumnya aktifitas mereka
masih ditujukan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari dan pendidikan
bahkan tidak menjadi sebuah kebutuhan mendasar bagi mereka.
Ditinjau dari jenis program dan sasaran peserta didik tampak bahwa pendidikan
nonformal memiliki area yang sangat luas. Pendidikan nonformal tidak mempunyai
sebuah pola yang rigid dan dapat berlangsung di mana saja. Dari sebuah kelompok
belajar membaca bagi orang-orang buta aksara di pedalaman Nusa Tenggara Timur
hingga kursus sertifikasi tingkat internasional pada sebuah gedung mewah di Jakarta
semuanya masuk dalam area pendidikan nonformal.
Tulisan berikut ini hendak membahas peluang penerapan teknologi informasi dan
komunikasi (TIK) dalam menciptakan perluasan akses dan peningkatan kualitas
pendidikan nonformal. Sejenak mari kita tinggalkan bentuk-bentuk pendidikan
nonformal yang sudah mapan dan dijalankan oleh satuan-satuan pendidikan
nonformal dengan dukungan manajemen dan finansial yang kuat. Kita tidak akan
membahas kursus-kursus dengan skala nasional, juga kelompok bermain dan bentuk
lain pendidikan anak usia dini yang sudah terstruktur dengan baik. Penerapan TIK
yang hendak dibahas di sini adalah pada program-program pendidikan nonformal
dengan sasaran anak-anak putus sekolah, orang-orang buta huruf, dan
pelatihan-pelatihan Lifeskills dalam kerangka pemberdayaan masyarakat.
Pada umumnya mereka adalah masyarakat miskin, putus sekolah,
buta huruf, terletak di pedalaman terpencil yang kesulitan untuk mengakses sekolah,
dan berbagai permasalahan lainnya. Melihat berbagai karakteristik tersebut mungkin
pikiran pertama yang akan muncul adalah sikap apatis. Bagaimana mungkin TIK yang
identik sebagai sebuah teknologi yang mahal dan rumit dapat diintegrasikan ke dalam
pendidikan yang justru ditujukan untuk warga masyarakat yang berasal dari kalangan
ekonomi lemah dengan tingkat pendidikan rendah?
Sebenarnya kesalahan utama justru terletak pada paradigma bahwa TIK adalah
teknologi mahal dan rumit. TIK selalu ditempatkan sebagai sesuatu obyek yang
canggih, mahal, dan memerlukan keahlian khusus untuk menggunakannya. TIK
belum dianggap sebagai sebuah bagian dari kehidupan kita sehari-hari. Orang yang
bisa mengoperasikan komputer masih mendapat kelas tersendiri dan dianggap
terpelajar.
Saat ini sudah selayaknya TIK dianggap sebagai sebuah kebutuhan hidup
sehari-hari bagi masyarakat. Jangan lagi menganggap komputer sebagai barang
mewah dan rumit tetapi sudah saatnya dianggap sama umumnya dengan sepeda motor
ataupun televisi yang semua orang berhak menggunakannya. Pada dasarnya telepon
seluler adalah salah satu bentuk TIK yang paling umum digunakan di masyarakat dan
saat ini tingkat penetrasinya di berbagai lapisan masyarakat sangat luar biasa.
Dalam kerangka pendidikan nonformal kita tidak akan membicarakan TIK yang
mahal, dengan jaringan komputer kecepatan tinggi yang canggih, notebook generasi
terbaru, ataupun berbagai perangkat lunak yang untuk membeli satu copy-nya saja
sama dengan gaji satu bulan seorang PNS golongan III di Indonesia. Yang harus
dirintis adalah TIK dengan karakteristik sebagai berikut:
1. TIK yang mampu meningkatkan harkat, martabat dan kepercayaan diri peserta
didik
program Keaksaraan Fungsional (Pemberantasan Buta Huruf)
Materi-materi dasar dan sederhana yang tidak memerlukan sarana dan prasarana yang mahal, semacam Introduction to Computer (ITC) atau berlatih menerima dan mengirim pesan singkat, menggunakan kamera digital, membuka
situs-situs internet adalah materi belajar yang dapat diterapkan untuk membuat peserta didik mengenal dan akrab dengan TIK.
2. TIK yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat
Saat ini sedang terjadi semacam euforia penerapan TIK di segala bidang.
analisis kebutuhan (requirement analysis), sebuah tahapan penting yang harusnya
selalu menjadi dasar bagi setiap perencanaan proses pengembangan TIK.
Tidak perlu memberikan peralatan mahal berharga milyaran rupiah untuk
sebuah lembaga pendidikan yang bahkan belum memiliki visi hendak digunakan untuk apa peralatan tersebut.
pernah mampu mereka beli hanya akan menjadikan TIK sebuah momok.
Pembelajaran yang sederhana dan menyenangkan dengan menggunakan
berbagai peralatan TIK berharga murah justru akan membuat peserta didik
tertarik untuk mempelajari lebih lanjut.
3. Sarana dan prasarana TIK haruslah low-cost
Seperti disebutkan di atas karakteristik peserta didik pendidikan nonformal
sepeda motor. TIK tetap dianggap mahal karena tidak dianggap sebagai suatu
kebutuhan seperti halnya barang-barang tersebut di atas,
dan prasarana TIK pada berbagai aspek, misalnya menggunakan perangkat lunak
open source, menjalin agreement dengan vendor perangkat lunak komersial untuk
kepentingan pendidikan, menekan pajak dan bea masuk perangkat keras
komputer untuk kepentingan pendidikan, membuat sebuah prosedur untuk
mengatur hibah komputer-komputer bekas dari berbagai institusi kepada
lembaga-lembaga pendidikan di pelosok nusantara, dan berbagai regulasi lain
yang ditujukan tidak untuk kepentingan pihak-pihak tertentu saja tetapi untuk
kepentingan pendidikan masyarakat luas.
4. Konten Pembelajaran dan Sumber Daya Manusia yang Memadai
Proses belajar mengajar pada jenis pendidikan apapun membutuhkan konten
dan sumberdaya manusia yang berkualitas. Saat ini dengan segala sarana dan
prasarana yang ada masih sangat kurang dukungan dan suplai akan konten
pembelajaran berbasis TIK yang memadai.
Pengembangan perangkat lunak edukasi, bahan belajar multimedia interaktif,
VCD/DVD pembelajaran yang murah namun berkualitas, situs dengan konten
pembelajaran yang diperlukan peserta didik memerlukan peran serta tidak hanya
dari para pelaku TIK namun juga setiap orang yang peduli akan pendidikan.
memahami TIK juga menjadi bagian yang diberikan perhatian khusus. Dengan
pendidik dan tenaga kependidikan yang memahami TIK dengan baik akan
membuat transfer ilmu kepada peserta didik berlangsung lebih lancar dan terjaga
kualitas proses pembelajarannya. Pembuatan perangkat lunak edukasi misalnya
saat ini sudah tidak seharusnya selalu memerlukan jasa programer, sebagai contoh
dengam pelatihan intensif Macromedia FlashTM yang memadai diharapkan
seorang instruktur kursus atau tutor program kesetaraan dapat membuat bahan
belajar yang menarik semudah membuat slide presentasi dalam Microsoft
PowerpointTM.
Dengan berbagai karakteristik seperti di atas, memang tampak bahwa
penggunaan TIK dalam pendidikan nonformal menuntut berbagai penyesuaian dan
adaptasi dibandingkan pada pendidikan formal. Usaha keras diperlukan karena para
pendidik dan tenaga kependidikan serta segenap pelaku TIK dan masyarakat sendiri
tentunya barulah dapat dicapai sebuah kondisi ideal bagi penerapan TIK dalam
pendidikan.
Sumber
ICT in Education in the Asia-Pacific Region: Progress and Plans, UNESCO
Bangkok, Bangkok, 2007
Sudarmanto, D., Widya Y., Ekawati,Y. Multimedia Interaktif Sebuah Terobosan
Pembelajaran Paket B. Jakarta, Indonesia; Jurnal Ilmiah Visi Pendidik dan
Tenaga Kependidikan-Pedidikan Nonformal Vol. 1, No. 1, hal. 46-56, 2007.
Wagner, D., Day, B., Sun, J., Information Technologies and Education for the Poor in
Africa (ITEPA), Final Report for Imfundo: Partnership for IT in Education, UK
Department for International Development (DFID), 2004
Widhiartha, P., Ekawati, Y., Sodiawati, I.. Design of a Interactive Multimedia Software for Functional Literacy. Surabaya, Indonesia; Proceeding of 3rd International Information and Communication Technology Conference, 200

Good luck ๐
BalasHapusMantappp
BalasHapusKereennn penulis ✨
BalasHapus๐๐
BalasHapusTerimakasih penulis. Bagus sekali ๐
BalasHapusSangat bermanfaat
BalasHapusGood job mbuang
BalasHapusgood๐
BalasHapusBarmanfaat
BalasHapusgood
BalasHapusSemangat๐๐
BalasHapusSemangat
BalasHapusSemangat, mungkin tulisannya bisa lebih dirapikan lagi๐
BalasHapusTerima kasih penulis
BalasHapusBagus, semangat nisa
BalasHapusGood
BalasHapusSemangatt adik, great job๐
BalasHapusNice
BalasHapusGood job sa
BalasHapus๐๐
BalasHapusKereeen
BalasHapusSemangat Nisa
BalasHapusBagus nisa
BalasHapus๐๐๐
BalasHapusGood๐
BalasHapusGood penulis
BalasHapusSemangat penulis๐๐
BalasHapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusTerima kasih penulis
BalasHapusTerima kasih penulis
BalasHapusMantap
BalasHapusSangat bermanfaat, Terimakasih penulis
BalasHapussemangat niss๐๐๐❤
BalasHapussemangat niss๐๐❤
BalasHapusSemangat nis
BalasHapusSemangaatt
BalasHapusgood writing, the author's passion for his work.
BalasHapus